al rasyid’s blog

November 18, 2008

Mahasiswa di 2009

Filed under: Dunia Kemahasiswaan


 2009 siap disambut dengan kepala tegak, banyak yang sudah dipersiapkan untuk menyongsong tahun dimana akan didakannya pesta demokrasi tersebut. Khususnya para mahasiswa, hari ini mahasiswa haruslah sudah menentukan pilihannya pada pesta demokrasi tersebut, sejak dulu dan sampai kapanpun mahasiswa akan menentukan masa depan bangsanya, bangsa yang berkualitas tentunya memiliki mahasiswa yang berkualitas pula. Namun, di sisi lain yang hitam pun  mahasiswa jugalah sering meresahkan masyarakat dengan sering terjadinya demonstrasi, namun pada dasarnya tindakan tersebut  merupakan salah satu bentuk pedulinya para mahasiswa terhadap keadaan bangsanya. Terkadang terlintas dalam benak para orang tua yang bingung oleh pekerjaan para mahasiswa yang hanya demo saja, namun disitulah peran mahasiswa, mahasiswa dituntut untuk selalu kritis dalam banyak hal termasuk dalam ururan kenegaraan. Siapa lagi yang akan menilai wakil rakyat kecuali para pemberani – pemberani penerus bangsa yang hari ini sedang digodog untuk menggantikan wakil rakyat dimasa yang datang.

mahasiswa harus menentukan wakilnya di tahun 2009, siapa yang dinilai sebagai seorang figure yang terbaik? Yang dinilai dapat membawa Negara Indonesia yang bermartabat di masa hadapan?. Sudah tidak menjadi hal yang tabu lagi bagi kita, usaha para calon – calon penerus bapak SBY yang sering kita saksikan di banyak media masa yang hari ini sedang giat – giatnya mempromosikan dirinya sebagai  calon yang terbaik dengan berbagai program dan janji yang akan dilaksanakan bilamana terpilih sebagai bapak presiden nantinya. Bukan janji yang dibutuhkan, tetapi kinerja kerja yang maksimal-lah yang harus kita tagih. Salam buat para mahasiswa se – Indonesia, kita satukan suara kita untuk masa depan nusantara kita, ibu pertiwi yang telah mendewasakan kita. (by : seorang anak ingusan yang menanti Indonesia jaya)

November 16, 2008

Indonesia

Filed under: Dunia Kemahasiswaan

by : Rizki Prio Utomo
Indonesia merupakan negara kepulauan yang di dalamnya terdapat berbagai suku, agama, ras dan antar golongan. Sejak semula dicanangkannya negara ini, para pendahulu kita menyadari bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah bagaimana mampu menjunjung tinggi persatuan di tengah perbedaan yang ada. Maka kemudian kita mengenal adanya istilah Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda akan tetapi tetap bersatu jua). Tentu butuh diskusi panjang untuk kemudian dapat mencapai kata sepakat untuk hidup bersama dengan lebih mengedepankan kepentingan bersama dan menggapai masa depan yang cerah. Dengan adanya berbagai bentuk penjajahan yang menginjak harga diri bangsa ini di masa lampau semakin mengukuhkan niat para pemuda (the best human material) ketika itu bahwa untuk terlepas dari belenggu penjajah maka kita mestilah bersatu. Hampir satu abad yang lalu sumpah kebersamaan itu diikrarkan oleh para pemuda di tanah air tepatnya pada 28 Oktober 1928. Para pemuda tanah air bersumpah bahwa bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia. Meskipun pengakuan secara de facto dan de jure negara Indonesia belum didapat ketika itu, akan tetapi ikrar tersebut mampu menstimulus dan membakar semangat seluruh pergerakan di tanah air untuk dapat bersatu. Hingga pada puncaknya cita -  cita bangsa ini sampai pada titik yang diinginkan yaitu Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Perjalanan panjang bangsa ini telah banyak menyita tenaga, waktu dan tentu saja dana yang amat besar. Namun yang menjadi pertanyaan kita adalah Sudahkah Indonesia hari ini sesuai dengan harapan para pendahulu kita? Sudahkah kita dapat hidup harmonis di antara perbedaan yang ada? Mampukah kita menjaga sumpah yang 80 tahun lalu diikrarkan oleh para pemuda? Sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan berbagai karya positif? Kita sepenuhnya menyadari bahwa berbagai keterbatasan dan persoalan yang kita miliki dalam mencapai cita – cita adalah dinamika dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi haruskah kita bersikap apatis dan terus saja menyodorkan retorika sebagai solusinya? Disintegrasi bangsa semakin hari semakin mengancam eksistensi negara ini, lalu dimanakah pemuda? Demonstrasi yang selalu diiringi tindakan anarkis apakah benar merupakan solusi terbaik untuk menjawab segala permasalah yang ada? Tragedi Sampit, Poso, Ambon, GAM, tragedi 1998 yang disertai penodaan ras dan pemerkosaan, dan lain sebagainya apakah benar merupakan teriakan hati nurani rakyat?

Dari berbagai persoalan yang ada, mari kita mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih positif, bahwa bangsa ini lebih membutuhkan karya nyata dari para pemudanya daripada hanya mampu menyajikan diskusi dari meja ke meja. Sudah saatnya pemuda mampu berpikir dan berkarya secara jernih dan positif dalam menanggulangi segala permasalahan yang ada serta mampu memikirkan masa depan bangsa ini. Pemuda bukanlah suatu takaran usia yang terbatas oleh rentang waktu, akan tetapi pemuda merupakan setiap individu yang telah mampu bertanggung jawab atas dirinya, sehat jiwa dan raga, selalu dapat berfikir segar dan positif, memiliki inisiatif, memiliki intelektual dan kreatifitas tinggi serta menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian berapapun usianya. Dengan begitu saya yakin bahwa segala permasalahan yang datang akan dapat diselesaikan dengan baik.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main